Feeds:
Posts
Comments

Archive for April, 2012

Pada prinsipnya besar tinggi gelombang tsunami dan limpasan tsunami di suatu lokasi tergantung pada: besarnya pengangkatan dasar laut (yang diakibatkan gempa), pola gelombang tsunami dari sumber ke lokasi, dan kondisi bathimetri serta dan topografi setempat. Untuk Sumatra, beruntung mempunyai data yang cukup banyak tentang pola dan parameter fisik dari sumber gempa. Demikian juga catatan sejarah tentang efek dan akibat tsunami di masa lampau sehingga  bisa membandingkannya dengan pemodelan tsunami yang dilakukan. Misalnya untuk kejadian gempa besar tahun 1797 dan 1833 di Sumatra barat dan Bengkulu,  data cukup lengkap  tentang deformasi kerak bumi dan pengangkatan dasar laut yang terjadi, juga ada catatan sejarah tentang besar dan efek dari tsunami pada waktu terjadi dua gempa tersebut di wilayah Padang dan Bengkulu. Dari data ini dibuat model tsunami dari gempa tahun 1797 dan 1833 kemudian membandingkan hasil simulasinya dengan data catatan sejarah.

Animasi pemodelan  gempa-tsunami untuk wilayah Sumatra barat dan Bengkulu berdasarkan data dan model gempa tahun 1797 dan 1833 yang didapat dari hasil penelitian Geoteknologi LIPI dan Caltech [Natawidjaja et al., 2006]. Dari model gempa tahun 1797 dan 1833 ini kemudian dibuat 4 buah model scenario yang paling mungkin berdasarkan pertimbangan yang (paling) masuk akal sampai skenario kemungkinan yang terburuk.

Data dan model gempa tahun 1797 memperlihatkan bahwa sumber gempanya adalah pergerakan pada zona subduksi dari 0.5 ̊ to 3.2 ̊ LS (sepanjang 300 km), dan rata-rata pergerakan yang terjadi adalah sekitar 6m. Dengan dimensi dan pergerakan ini skala magnitudo gempa tahun 1797 adalah antara 8.4 s/d 8.6 [Natawidjaja et al., 2006]….(penjelasan lengkap di: https://gempapadang.wordpress.com/2012/04/17/pemodelan-landaan-tsunami-kota-padang-dan-bengkulu/)

Simulasi landaan tsunami di Sumatera

Simulasi landaan tsunami 1797 di Sumatra

(more…)

Read Full Post »

Sejak manusia pertama kali menghuni bumi, sejak saat itu pula manusia sudah berhadapan dengan fenomena alam yang berpotensi bencana. Hujan, panas, angin, gelombang, pergerakan bumi yang menimbulkan gempa dll adalah pendamping manusia dibumi ini.

Beberapa kisah  Nabi-Nabi Allah yang terdapat bencana di dalamnya dan terdapat upaya kesiapsiagaan, mitigasi bencana, dan peringatan dini serta rehabilitasi dan rekonstruksi. Semoga menjadikan kita inspirasi dalam kesiapsiagaan dan upaya pengurangan risiko bencana ketimbang merenungi nasib dan panik.

Kisah Nabi Yusuf dalam mempersiapkan musim kering dan kelaparan yang akan terjadi dengan menyiapkan segala logistik selama tujuh tahun untuk musim kering selama tujuh tahun setelah adanya warning atau peringatan, merupakan contoh bahwa Allah menyuruh kita untuk memitigasi bencana dan bersiaga. (QS Yusuf ayat 43 – 49)

Kisah yang lebih tua adalah kisah Nabi Nuh untuk menyiapkan segala sesuatunya untuk menghadapi bencana banjir besar di dunia. Nabi Nuh menyiapkan segala logistik, dan sarana untuk memitigasi bencana yaitu perahu besar. Juga membuktikan bahwa kita harus berusaha memitigasi bencana, karena bencana tidak semata-mata takdir yang tidak bisa ditolak.  (more…)

Read Full Post »

Gempa Aceh 11 April 2012 M=8.6: Menuju pemahaman lebih komprehensif tentang sumber gempa besar di Sumatra.

Dibawah ini satu release dari Geotek-LIPI yang berkantor di Bandung. Ini untuk mengisi pemikiran bagi yang ingin lebih mendalami kegempaan di daerah ini. Bahasanya lebih tehnis, tapi lebih mudah bagi yang memang ingin mendalaminya

Release sementara: Puslit Geoteknologi LIPI 18 April 2012 12:00 WIB akan terus diupdate sesuai dengan perkembangan penelitian (oleh Dr. Nugroho D. Hananto dan Dr. Ir. Haryadi Permana)

Kawasan Sumatera bagian utara kembali diguncang gempa pada tanggal 11 April 2012 jam 15:38 dengan kekuatan M=8.6 menurut United States Geological Survey (USGS) dengan lokasi episenter terletak pada 2.311° LU dan 93.063° BT (Gambar 1). Gempa ini diikuti oleh beberapa gempa susulan dengan kekuatan yang lebih kecil dari gempa utama tersebut (Gambar 1), gempa susulan berdasarkan data dari jaringan GFZ dan BMKG).Adalah hal yang menarik karena pada tanggal 10 Januari 2012 yang baru lalu, daerah ini juga telah diguncang oleh gempa dengan kekuatan M=7.2 (Gambar 1). Lokasi gempa ini bertepatan dengan adanya patahan kerak samudera (fracture zone) (F6 pada Gambar 1). Patahan kerak samudera ini telah dapat dicitrakan menggunakan metoda seismik laut dalam atas kerjasama antara LIPI, BPPT, Institut de Physique du Globe de Paris dan didukung oleh WesternGeco, sebuah perusahaan seismik terkemuka. Patahan kerak samudera yang dicitrakan menunjukkan adanya patahan berciri patahan geser dengan sedikit komponen patahan turun. Gempa besar di patahan kerak samudera ini unik karena gempa besar dengan M>8 terjadi pada daerah konvergensi lempeng atau pada zona penunjaman.  (more…)

Read Full Post »


Peristiwa tsunami Aceh tahun 2004 adalah tragedi besar yang sangat mengejutkan dunia. Sebelumnya banyak orang tidak mengenal istilah tsunami . Peristiwa Aceh menyadarkan orang bahwa kejadian tsunami yang diakibatkan oleh gempa bisa demikian hebat dampaknya. Selagi bumi NAD masih basah ,3 bulan kemudian gempa besar kembali mengguncang Nias- Simelue pada Maret 2005 . Untungnya meski gempa ini sama jenisnya dengan gempa Aceh-Andaman yang dapat menimbulkan tsunami tapi pada kejadian gempa tahun 2005 tsunaminya tidak besar. Kemudian sejak itu ,berturut-turut gempa terus mengoyang bumi Sumatera . Pada 12-13 September 2007 wilayah Bengkulu- Mentawai,Februari 2008 Siberut ,30 September 2009 Padang -Pariaman dan terakhir 25 Oktober 2010 di Pagai Selatan gempa yang mengakibatkan tsunami. Dua gempa terakhirpun banyak menimbulkan korban jiwa dan harta benda.

Dari hasil penelitian kita tahu bahwa setelah gempa besar tahun 2007 ini, segmen zona subduksi Sumatra di wilayah Mentawai masih menyimpan potensi yang sangat besar untuk mengeluarkan gempa di atas skala magnitudo M8.5. Karena itu kita perlu mengantisipasi bencana yang mungkin ditimbulkan apabila gempa ini terjadi. dari data yang tersedia dapat diperkirakan berapa besar tsunami yang bisa terjadi dan bagaimana dampaknya ke wilayah disekitarnya. Prakiraan tinggi tsunami dipantai dan landaan gelombang tsunami ke daratan sangat penting untuk diketahui dengan sebaik- baiknya, karena hal ini perlu untuk masukan dalam membuat rencana dan peta evakuasi, rencana tanggap darurat, rencana pembangunan pesisir pantai dalam jangka panjang, dan juga usaha mendidik dan mempersiapkan masyarakat untuk siaga bencana.

Wilayah pesisir Sumatra Barat dan Bengkulu adalah wilayah yang sangat rawan tsunami. Hal ini disebabkan karena kemungkinan atau potensi terjadinya gempa besar di zona subduksi segmen Mentawai sangat tinggi dan populasi penduduk di tepi pantai di wilayah ini dua kali lipat lebih besar dari populasi di pesisir Aceh yang terkena tsunami tahun 2004. Populasi penduduk yang bermukim di wilayah pesisir pantai Sumatera Barat sebanyak 534.878 : di Kota Padang mencapai 380.402 orang, kemudian Pesisir Selatan (36.980), Pasaman Barat (29.649), Pariaman (25.029), Padang Pariaman (24.861), Agam (20.644) dan Kepulauan Mentawai (17.313). Sementara di Kota Bengkulu sekitar (60.000),Pulau Enggano (2.700) .   (more…)

Read Full Post »

Gempa kuat yang pusatnya berada di laut disebalah barat Aceh ini mengagetkan sekaligus menegangkan karena adanya peringatan tsunami dari BMKG.

Gempa dengan Magnitudo 8.3 SR (versi BMKG), Mag : 8,9 (versi USGS), terjadi pada Tanggal 11-Apr-2012, tepatnya pukul 17:43:11 WIB. Lokasi gempa : (0.82 LU, 92.42 BT, dengan kedalaman: 24 Km. Lokasinya berada di Northern Sumatra Berjarak 552 km BARAT DAYA Meulaboh, 614 km BARAT DAYA Banda Aceh, 638 km BARAT DAYA Sigli, 646 km BARAT DAYA Sabang dan sekitar 678 km BARAT DAYA dari Bireun

 

(more…)

Read Full Post »

Sumatera Barat memiliki garis pantai sepanjang lebih kurang 375 km, berupa dataran rendah sebagai bagian dari gugus kepulauan busur muka. Perairan barat Sumatera memiliki kondisi tektonik aktif, karena merupakan bagian dari pertemuan antara Lempeng Indo-Australia dengan Lempeng Eurasia yang dicirikan oleh kegempaan aktif. Gempa-gempa besar (di atas Mw7) yang berpusat di dasar laut sering terjadi di wilayah ini dengan kedalaman relatif dangkal. Gempa-gempa yang sering menimbulkan tsunami di perairan barat Sumatera tersebut perlu diwaspadai, terutama di kawasan pantai yang padat penduduk.

Gempa yang diikuti Tsunami besar di Aceh pada 24 Desember 2004 telah mengakibatkan kerugian yang sangat besar baik sosial, ekonomi, fisik maupun lingkungan. Kebanyakan korban adalah masyarakat rentan yang tinggal di daerah pesisir dataran rendah di tepi pantai tanpa pengetahuan tentang bahaya tsunami serta dampaknya, tanpa kesiapan dan kewaspadaan yang cukup dalam menghadapi bencana alam tsunami dan tanpa tempat evakuasi dan peringatan dini.

Namun demikian resiko kehilangan nyawa akibat bahaya tsunami dapat diminimalisir diantaranya dengan mengaktifkan sistem-sistem peringatan dini tsunami baik secara resmi maupun secara kearifan lokal, meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap bahaya alam, meningkatkan kesiapan dan kewaspadaan masyarakat, meningkatkan mutu pengelolaan bencana dan tentu dengan sistem evakuasi yang lebih efektif dan lain sebagainya.

Kota Padang yang berbatasan dengan Lautan Hindia berpotensi untuk terancam bahaya tsunami yang dipicu oleh adanya gempa tektonik pada zona sub-duksi lempeng Hindia-Australia dan Eurasia, yang berjarak sekitar 200 km dari tepi pantai barat kota ini. Mayoritas penduduk dan aktivitas warga Kota Padang berpusat di wilayah pesisir, termasuk sekolah, rumah sakit dan perkantoran serta perdagangan. Kondisi ini menyebabkan masyarakat yang berada di wilayah pesisir menjadi rentan terhadap bahaya tsunami. Penduduk Kota Padang yang terancam bahaya tsunami tersebut berjumlah sekitar 406,879 jiwa

Tingginya jumlah populasi masyarakat yang bertempat tinggal dan beraktifitas di wilayah pesisir Kota Padang meningkatkan kerentanan terhadap bahaya tsunami. Walaupun frekuensi kejadiannya lebih rendah dibandingkan dengan bahaya alam lainnya seperti banjir dan longsor, tetapi dampak yang ditimbulkannya akan sangat luas baik korban jiwa, luka-luka, harta benda dan kerugian lingkungan. Karena itu kejadian tsunami yang cukup besar sering dikatakan sebagai sebuah bencana atau catastroph.

Resiko bahaya tsunami selain disebabkan oleh adanya potensi bahaya itu sendiri, dipengaruhi pula oleh tingkat kerentanan masyarakat di zona bahaya tersebut. Bahaya tsunami merupakan suatu fenomena alam yang berada diluar jangkauan manusia untuk mengaturnya, sedangkan kerentanan merupakan hasil perbuatan atau kegiatan manusia. Interaksi kedua komponen tersebut menyebabkan terjadinya resiko. Oleh karena itu untuk mengurangi resiko yang ditimbulkan oleh bahaya tsunami maka tingkat kerentanan masyarakat harus dapat dikurangi diantaranya melalui peningkatan kapasitas serta menerapkan sistem evakuasi dan peringatan dini yang baik. (more…)

Read Full Post »

Sepanjang zona subduksi Pulau Sumatera merupakan jalur gempa bumi yang paling banyak menyerap dan mengeluarkan energi gempa bumi. Dalam sejarah, tercatat sudah banyak kejadian gempa bumi dengan magnitudo di atas 8.0 (skala Richter dll)  [Natawidjaja, 2005; Newcomb and McCann, 1987]. Di Selatan Sumatera, gempa besar pernah terjadi tahun 1833 (M8.9) dan tahun 1797 (M8.3-8.7). Kedua gempa ini menghasilkan tsunami besar yang menghantam perairan Sumatra Barat dan Bengkulu.

Di wilayah khatulistiwa, gempa besar terakhir terjadi tahun 1935 dengan kekuatan gempa M 7.7. Gempa ini menyebabkan kerusakan yang cukup parah di Telo, kota Kecamatan di Kep. Batu dan juga wilayah sekitarnya. Di beberapa tempat di Kep. Batu dilaporkan juga adanya kenaikan air laut ketika gempa, namun tidak dilaporkan adanya kerusakan serius akibat gelombang laut yang naik ini .

Gempa dan tsunami besar juga pernah melanda wilayah Nias- Simelue pada tahun 1861 diperkirakan berkekuatan lebih dari 8.5 SR. Kemudian tahun 1907 terjadi kembali tsunami besar di wilayah Simelue dan Nias. Meskipun magnitudo gempa yang menyebabkan tsunami 1907 ini tidak terlalu besar (M7.6) namun tinggi tsunami yang terjadi di pantai barat dan Utara Simelue mencapai lebih dari 10 meter.

Bedasarkan catatan ,tinggi tsunami tahun 1907 dua kali lebih besar dari tsunami Aceh 2004 di wilayah Pulau Simelue. Peristiwa tsunami inilah yang konon melahirkan istilah “SMONG” atau bahasa lokal untuk tsunami. Orang-orang  yang selamat saat bencana tsunami 1907 itu lantas menceritakan tragedi tersebut pada anak cucu mereka, turun temurun hingga kini. Inti nasehatnya kurang lebih adalah “apabila nanti air laut tiba-tiba surut sampai jauh ke tengah maka itulah tandanya smong akan datang, larilah cepat ke bukit, selamatkan jiwa dan tinggalkan saja harta benda”.   (more…)

Read Full Post »