Feeds:
Posts
Comments

Archive for August, 2011

MARAPI, Sumatera Barat

 

 


Keterangan Umum

Nama : Marapi
Nama Lain : Merapi, Berapi (Neumann van Padang, 1951, p.22)
Nama Kawah : Kaldera Bancah (A), Kapundan Tuo (B), Kabun Bungo (C), Kapundan Bongso (D), Kawah Verbeek atau Kapundan Tenga (D4).
Nama Lapangan Solfatara : Sibangor Julu
Lokasia. Geografib. Administrasi :: 0o22’ 47,72” Lintang Selatan100o28’ 16,71” Bujur TimurSumatera Barat, Kabupaten Agam dan Kabupaten Batusangkar.
Ketinggian : 2891,3 m dml
Tipe Gunungapi : Strato

Pendahuluan

Cara Pencapaian Puncak

Cara mencapai ke arah puncak ada tiga, yakni dari arah selatan menenggara, baratlaut dan selatan. Masing-masing untuk pendakian tersebut dimulai kota Pariangan, Sungai Puar dan Koto Baru.

 Sejarah Letusan


1807 Sampai 1822 dinyatakan adanya suatu letusan seperti dalam 1822.
1822 Terjadi kepulan asap hitam kelabu, disusul leleran lava disertai sinar api merah tua dalam waktu seperempat jam. Setelah itu terjadi asap dan awan debu selama setengah hari juga teramatai sinar api terus-menerus sampai keesokan harinya. Kerusakan yang diakibatkannya kecil (du Puy, 1845, p.12; Junghuhn, p.139-1240)
1833-1834 Beberapa letusan kecil telah terjadi. Tiang asap dan abu hitam tampak. Pada waktu malam terlihat bara api dari kawah.
1845 Terdengar suara bergemuruh di dalam bumi; terlihat api besar.
1854 Sejak 29 Agustus terjadi letusan abu selama beberapa hari.
1855 Pada 2 Oktober bekerja giat; terasa gempa dan adanya tiang asap disertai suara gemuruh terus-menerus. Pada sore harinya terlihat bara api, abu dan banyak batu terlempar.
1856 Dalam bulan Januari kadang-kadang terlihat pancaran api .
1861 Dalam April diberitakan Marapi bertambah kegiatannya.
1863 Pada 23 Mei senja hari terjadi letusan. Kepulan asap jelas terlihat.
1871 Pada 24 April terjadi hujan abu agak tebal sampai ke Bukittinggi.
1876 Pada 4 April suatu awan asap besar terlihat. Dalam bulan Agustus bongkah lava sebesar 10-12 m3 dilemparkan sejauh 280 m.
Dalam Agustus sampai Desember teramati letusan lava, abu dan bom.
1877 Sampai pertengahan tahun ini kegiatannya bertambah.
1878 Dalam Desember terdengar suara gemuruh selama 10 menit.
1883 Pada 5 Juni dan 27 Agustus terjadi letusan abu. Dalam Desember terjadi erupsi kecil.
1885 Pada 12 Nopember terlihat tiang asap.
1886 Pada 31 Maret terdengar suara gemuruh lima kali. Pada 1-2 April terjadi letusan abu, pada 18 April letusan abu dan pasir. Pada 27 April letusan abu dan terjadi hujan abu sampai Sumpur dan Simawang. Pada 29 April terjadi letusan kecil dua kali. Pada 1-3 Mei gempa bumi dapat dirasakan.
1888 Pada 19-20 Pebruari terjadi letusan abu dan batu pijar sampai tengah malam. Pada 20 Pebruari pukul 04.00 terdengar 2 kali ledakan, pukul 04.05 terjadi letusan, terdengar suara ledakan beberapa kali dan gempabumi, beberapa kali terlihat baraapi. Di Tiku hujan abu selama dua jam. Pada 21 Pebruari terlihat tiang asap hitam setinggi lk 400 m, selama beberapa jam. Suara seperti ledakan meriam kadang-kadang sampai 22 Pebruari malam. Pada 25 Pebruari kegiatan berkurang. Suara gemuruh terdengar sampai 9 Maret.
1889, 1904, 1905, 1908, 1910, 1911, 1913 Keterangan kurang jelas.
1916 Pada 5 Mei pukul 14.30 – 14.44 dan 7 Mei pukul 13.14 terdengar suara gemuruh.
1917 Pada 16 dan 18 Juni menurut Justesen terjadi ledakan kecil dan turun hujan abu. Pada 16 September terjadi letusan besar dan turun hujan abu sampai Bukittinggi.
1918 Pada 8 Maret terjadi suatu letusan. 10 Maret Justesen melihat dasar kawah merah darah dan kepulan asap biru disertai bualan batu kecil sampai beberapa meter. Pada pertengahan Agustus terjadi suatu ledakan disertai pancaran api.
1919 Pada 28 Pebruari atau 1 Maret terjadi ledakan dan awan abu. Juga adanya bongkah lava terlempar ke arah baratdaya.
1925 Pada 12-13 April Ziegler melihat suatu sumbat lava hitam pada dasar kawah.
1927 Pada 5 Pebruari pukul 01.30 terdengar suara letusan pukul 7.20 letusan dengan asap berbentuk kembang kol. Abu sampai di Padang Panjang. Pada 6 dan 7 Pebruari terjadi letusan kecil di Kepundan Bungo. Pada 7 Pebruari hujan abu sampai di Padang Panjang. Pada 11 Pebruari pukul 22.00 turun hujan abu di padang Panjang. Pada 11 Pebruari pukul 22.00 turun hujan abu di Padang panjang.
Pada 28 April pukul 17.10 letusan abu, asap sampai setinggi lk. 2000 m. Dari akhir Mei sampai akhir Juni dicatat beberapa letusan kecil. Pada 3 Agustus terlihat tiang asap setinggi lk. 3 km.
1929 Pada 22 Juni terjadi letusan abu dan lava pijar terlempar.
1930 Pada 9 April terlihat lava pada rekahan di dasar kawah. Dalam Mei letusan. Pada 19 Juni erupsi juga menurut Neumann van Padang. Pada 2 September terjadi suatu letusan abu dan pasir disusul letusan kedua pukul 11.30.
1932 Menurut Neumann van Padang berdasarkan sebuah potret terjadi letusan.
1949 Pada 29 April letusan abu diawali dengan suara gempa bumi, setelah goncangan tersebut muncul awan berbentuk kol kembang. Kepulan asap terlihat sampai malam. Letusan tersebut berlangsung beberapa hari. Dalam Oktober kegiatan sama seperti dalam April, terjadi pada kira-kira pertengahan bulan danberlangsung selama satu minggu.
1951 Pada 22 Maret letusan abu dari Kepundan Bungsu.
1952 Pada 29 Mei suatu bualan asap berbentuk kol kembang setinggi 2000 sampai 3000 m sampai malam hari masih terlihat. Keesokan harinya hujan abu jatuh di Padang Pajang. Pada 31 Mei-4 Juni terlihat asap tebal bergerak ke arah tenggara. Pada 6 Juni letusan abu berbentuk kol kembang, pukul 09.45 setinggi 2 m. Pukul 09.52 disusul letusan pada 10.10 pagi itu juga. Hujan abu yang diakibatkannya berwarna abu-abu tua. Pada 7-14 Juni letusan abu yang lemah dapat diamati tiap hari. Kadang-kadang terlihat 3 tiang asap dari tiga tempat yang berlainan yang dapat dibedakan. Kegiatan berlangsung terus dan berganti-ganti.
1955 Kenaikan kegiatan
1956 Kenaikan kegiatan
1957 Kenaikan kegiatan
1958 Kenaikan kegiatan
1967 Kenaikan kegiatan
1970 Peningkatan Kegiatan
1971 Letusan abu di Kepundan B dan C
1972 Peningkatan kegiatan solfatara di Kawah B dan C dan Bungsu.
1973 Pada 24 Juli, letusan gas asap dalam Kawah Verbeek berwarna kehitam-hitaman setinggi 100 m.

Geologi dan Petrologi   (more…)

Advertisements

Read Full Post »

Bila terjdi sebuah gempa di suatu daerah ,stasiun pencatat gempa akan menghasilkan informasi seismik berupa rekaman sinyal berbentuk gelombang yang setelah melalui proses manual atau non manual akan menjadi data bacaan fase (phase reading data).

Informasi seismik selanjutnya mengalami proses pengumpulan, pengolahan dan analisis sehingga menjadi parameter gempa. Parameter gempa tersebut meliputi : Waktu kejadian gempa, Lokasi episenter, Kedalaman sumber gempa, Kekuatan gempa, dan Intensitas gempa.

Waktu kejadian gempa (Origin Time) adalah waktu terlepasnya akumulasi tegangan (stress) yang berbentuk penjalaran gelombang gempa dan dinyatakan dalam hari, tanggal, bulan, tahun, jam, menit, detik dalam satuan UTC (Universal Time Coordinated).

Episenter adalah titik di permukaan bumi yang merupakan refleksi tegak lurus dari Hiposenter atau Fokus gempabumi. Lokasi Episenter dibuat dalam sistem koordinat kartesian bola bumi atau sistem koordinat geografis dan dinyatakan dalam derajat lintang dan bujur.

Kedalaman sumber gempa adalah jarak hiposenter dihitung tegak lurus dari permukaan bumi. Kedalaman dinyatakan oleh besaran jarak dalam satuan KM.

Kekuatan gempa atau Magnitude adalah ukuran kekuatan gempa, menggambarkan besarnya energi yang terlepas pada saat gempa terjadi dan merupakan hasil pengamatan Seismograf. Magnitude menggunakan skala Richter (SR).

Intensitas gempa adalah ukuran kerusakan akibat gempa berdasarkan hasil pengamatan efek gempa terhadap manusia, struktur bangunan dan lingkungan pada tempat tertentu, dinyatakan dalam skala MMI (Modified Mercalli Intensity).   (more…)

Read Full Post »

Peningkatan Status Gunung Marapi,Sumbar dari Status Normal (Level I) menjadi Waspada (Level II) oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi

 

I. PENDAHULUAN

Gunung Marapi merupakan salah satu gunungapi aktif di Sumatera Barat dengan ketinggian puncak sekitar 2900 m dpl. Secara geografis puncak Gunung  Marapi terletak pada posisi 0o 22’ 47.72” LS dan 100o 28’ 16.71” BT dengan ketinggian 2891 m dpl (Rasyid, 1990). Secara administratif Gunung Marapi termasuk dalam wilayah Kabupaten Agam dan Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat.

Gunung Marapi merupakan gunung tipe stratovolcano dengan tubuh gunung memanjang ke arah kurang lebih Baratdaya-Timurlaut. Daerah puncak Gunung Marapi dicirikan oleh suatu kaldera yang mempunyai beberapa kawah aktif yang mengikuti arah Baratdaya-Timurlaut. Sejarah letusan Gunung Marapi dicirikan oleh aktivitas vulkanik berupa erupsi eksplosif pada kawah puncak. Erupsi Gunung Marapi terakhir terjadi pada tahun 2005 berupa erupsi eksplosif pada kawah sentral. Erupsi masa lalu yang banyak mengakibatkan korban terjadi pada tahun 1975 merupakan  erupsi magmatik dan freatik.   (more…)

Read Full Post »