Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘bengkulu’

I. AREA : Sumatera Barat & Bengkulu

 

Results found near point: (101.999, -4.993)

Tsunami Event: SW. SUMATRA: 1770/??/??
Date: 1770/??/??
Latitude: -5
Longitude: 102
Location Name: SW. SUMATRA
Country: INDONESIA
Event Validity: Probable Tsunami
Earthquake Magnitude: 7
Tsunami Intensity: 0.5
Comments: 1770, no date, 5 S, 102 E, magnitude 7. In the Bengkulu district (Sumatra Island), there was a very strong earthquake. A settlement was destroyed. The ground cracked. One of the cracks had a length of 500 m, a width of 3 1/2 m and a depth of 8 m, and from it oozed a bituminous substance. At the same time, a section of coast near the mouth of the Padang Gutongi River, which flows in the Mana district, dried up. Finally, a tidal wave occurred simultaneously with the earthquake.

As Wichmann notes, the year given is tentative. The event could have coincided with the earthquake experienced at Bengkulu by Ch. Miller, who says: One earthquake, in particular, after my arrival here was very strong and did much damage in the country. The Dempo Volcano, visible from Fort Malboro at Bengkulu and smoking almost constantly, ejected flames during the earthquake (Wichmann, 1918). (above from reference #414)

Tahun 1770, tanpa tanggal, koordinat : 5 S, 102 E, berkekuatan 7.0 di Bengkulu (Sumatera), terjadi gempa bumi yang sangat kuat. Sebuah pemukiman hancur. Tanah retak. salah satu retakannya sepanjang 500 m,lebar 3,5 m dan kedalaman 8 m, serta mengeluarkan gas. Pada saat yang sama, di muara pantai dekat mulut Sungai Padang Gutongi di Manna , air sungai mengering dan kemudian gelombang tsunami terjadi secara bersamaan dengan gempa bumi.

Dari catatan Wichmann. kejadian bertepatan dengan gempa yang dialami di Bengkulu oleh Ch. Miller, yang mengatakan: “gempa bumi sangat kuat, terjadi setelah kedatangan saya di sini dan terdapat banyak kerusakan di daerah tersebut . Gunung Dempo, terlihat dari Fort Malboro di Bengkulu berasap terus-menerus, dan menyemburkan api selama gempa bumi terjadi” (Wichmann, 1918). (dari referensi # 414)     (more…)

Read Full Post »


Peristiwa tsunami Aceh tahun 2004 adalah tragedi besar yang sangat mengejutkan dunia. Sebelumnya banyak orang tidak mengenal istilah tsunami . Peristiwa Aceh menyadarkan orang bahwa kejadian tsunami yang diakibatkan oleh gempa bisa demikian hebat dampaknya. Selagi bumi NAD masih basah ,3 bulan kemudian gempa besar kembali mengguncang Nias- Simelue pada Maret 2005 . Untungnya meski gempa ini sama jenisnya dengan gempa Aceh-Andaman yang dapat menimbulkan tsunami tapi pada kejadian gempa tahun 2005 tsunaminya tidak besar. Kemudian sejak itu ,berturut-turut gempa terus mengoyang bumi Sumatera . Pada 12-13 September 2007 wilayah Bengkulu- Mentawai,Februari 2008 Siberut ,30 September 2009 Padang -Pariaman dan terakhir 25 Oktober 2010 di Pagai Selatan gempa yang mengakibatkan tsunami. Dua gempa terakhirpun banyak menimbulkan korban jiwa dan harta benda.

Dari hasil penelitian kita tahu bahwa setelah gempa besar tahun 2007 ini, segmen zona subduksi Sumatra di wilayah Mentawai masih menyimpan potensi yang sangat besar untuk mengeluarkan gempa di atas skala magnitudo M8.5. Karena itu kita perlu mengantisipasi bencana yang mungkin ditimbulkan apabila gempa ini terjadi. dari data yang tersedia dapat diperkirakan berapa besar tsunami yang bisa terjadi dan bagaimana dampaknya ke wilayah disekitarnya. Prakiraan tinggi tsunami dipantai dan landaan gelombang tsunami ke daratan sangat penting untuk diketahui dengan sebaik- baiknya, karena hal ini perlu untuk masukan dalam membuat rencana dan peta evakuasi, rencana tanggap darurat, rencana pembangunan pesisir pantai dalam jangka panjang, dan juga usaha mendidik dan mempersiapkan masyarakat untuk siaga bencana.

Wilayah pesisir Sumatra Barat dan Bengkulu adalah wilayah yang sangat rawan tsunami. Hal ini disebabkan karena kemungkinan atau potensi terjadinya gempa besar di zona subduksi segmen Mentawai sangat tinggi dan populasi penduduk di tepi pantai di wilayah ini dua kali lipat lebih besar dari populasi di pesisir Aceh yang terkena tsunami tahun 2004. Populasi penduduk yang bermukim di wilayah pesisir pantai Sumatera Barat sebanyak 534.878 : di Kota Padang mencapai 380.402 orang, kemudian Pesisir Selatan (36.980), Pasaman Barat (29.649), Pariaman (25.029), Padang Pariaman (24.861), Agam (20.644) dan Kepulauan Mentawai (17.313). Sementara di Kota Bengkulu sekitar (60.000),Pulau Enggano (2.700) .   (more…)

Read Full Post »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,697 other followers